1945 – 1949 Masa Perang Mempertahankan Kemerdekaan

Bangsa Indonesia tidak melewatkan peluang emas pada hari-hari terakhir perang dunia kedua saat Jepang menyerah pada Sekutu, dengan memproklamirkan kemerdekaannya pda tanggal 17 Agustus 1945. Tetapi pengambilalihan kekuasaan tidak berjalan dengan mulus, karena bala tentara Jepang tidak mau menyerahkan kekuasaan dan persenjataan mereka kepada pihak Indonesia. Demikian pula dengan pelayanan pos, selama lebih dari sebulan setelah proklamasai kemrdekaan RI masih ditanganioleh dinas pos Jepang.

Perjuangan Pemuda Mengambil Alih Kantor Pos

Pada tanggal 27 September 1945, pemuda-pemuda Indonesia mengambil alih Kantor Pos Pusat di Bandung dan terhitung sejak tanggal tersebut pelayanan pos ditangani oleh DJAWATAN PTT (saat ini berganti nama menjadi POS INDONESIA).

Namun tanggal 29 September 1945, tentara Belanda membonceng tentara Sekutu yang bertugas untuk melucuti persenjataan tentara Jepang mendarat di Batavia (sekarang bernama Jakarta). Tak terelakkan lagi terjadilah perang fisik yang paling berdarah dalam sejarah bangsa Indonesiayang menelan korban lebih dari 1 juta jiwa. Perang berlangsung sejak Oktober 1945 sampai dengan akhir 1949.

prangko kemerdekaan indonesia

Fakta Menarik

Dari sudut pandang filateli masa tersebut sangat menarik karena ada tiga pelayanan pos yang diselenggarakan oleh dua negara yang bermusuhan di atas wilayah yang sama. Di kota-kota besar yang berhasil direbut oleh Belanda berlangsung pelayanan pos dengan menggunakan prangko Ned. Indie dilain pihak di daerah-daerah yang masih dikuasi oleh tentara RI pelayanan pos diselenggarakan oleh DJAWATAN PTT dengan menggunakan prangko Indonesia.

Satu fakta yang tidak bisa dibantah adalah bahwa dalam suasana perang tersebut pelayanan Pos Indonesia dengan mempergunakan prangko Indonesia tetap bisa diselenggarakan walaupun hanya di dua pulau saja, yaitu pulau Jawa dan Sumatera.

Karena blockade tentara Belanda makan koordinasi antar pelayanan di Pos Jawa dan Sumatera tidak bisa dilaksanakan dan masing-masing akhirnya memutuskan utuk mencetak prangko sendiri-sendiri, menetapkan kebijaksanaan dan tarif pos berbeda satu terhadap yang lain. Suasana perang membuat perekonomian rakyat Indonesia hancur dan mengakibatkan inflasi yang hebat. Semuanya terekam dalam prangko-prangko yang diterbitkan pemerintah Indonesia pada waktu itu.

Kesulitan hidup yang diderita oleh seluruh bangsa Indonesia membuat hanya Sebagian kecil dari total prango yang dicetak pada masa itu terselamtkan sampai dengan saat ini. Kelangkaan membuat prangko-prangko dan benda-benda filateli dari masa 1945 s/d 1949 sangat menarik untuk dikoleksi walaupun dicetak dengan proses cetak yang sangat sederhana diatas kertas berkualitas rendah.

Bagaimana dengan peran prangko dalam merekam jejak sejarah di Indonesia?

Begitu merdeka, Indonesia tidak langsung mencetak prangko. Baru tahun 1946, Indonesia menerbitkan prangko untuk menunjukan Republik Indonesia punya kedaulatannya sendiri. Prangko itu dicetak di Yogyakarta pada 1 Desember 1946. Prangko itu bergambar benteng dan bendera Merah Putih, di bagian atas prangko ditulis “Indonesia Merdeka” dengan tulisan bagian bawah “17 Agustus 1945” dengan harga 20 sen.

Berikut contoh-contoh prangko-prangko pada tahun 1945 – 1949:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Main Menu