Sejarah Keris Si Benda Pusaka

Antikpedia.comKeris (ꦏꦼꦫꦶꦱ꧀) merupakan senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) berasal dari pulau Jawa yang memiliki ragam fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah.
Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, sering kali bilahnya berkelok-kelok, dan banyak di antaranya memiliki pamor (damascene), yaitu terlihat serat-serat lapisan logam cerah pada helai bilah. Kata keris sendiri berasal dari bahasa Jawa yaitu ngiris yang berarti menusuk. Keris telah digunakan antara abad ke-9 dan 14.

Keris yang terkenal adalah yang memiliki gelombang dan berkelok atau bergerigi. Umumnya, sebuah keris memiliki tiga bagian yaitu bilah (pisau), hulu (gagang), dan warangka (sarung). Diukir dengan teliti, bagian-bagian keris ini memiliki arti seni tersendiri.
Bahan pembentuk keris juga beraneka ragam, seperti logam mulia, kayu, gading, hingga terbuat dari emas. Pada zaman dahulu, keris digunakan sebagai senjata dalam duel atau peperangan, sekaligus benda pelengkap sesajen. Namun kini, keris juga menjadi salah satu aksesoris dalam berbusana, simbol kecerdikan budi, atau menjadi benda koleksi yang dilihat estetikanya. Keris Indonesia telah terdaftar di UNESCO sebagai Warisan Kecerdikan Budi Dunia Non-Bendawi Manusia sejak 2005.

Sejarah keris belum sepenuhnya terjelaskan karena tidak ada sumber tertulis yang deskriptif mengenainya dari masa sebelum abad ke-15, meskipun penyebutan istilah “KERIS” telah tercantum pada prasasti dari abad ke-9 Masehi. Namun sejarah keris diperkirakan asal mula penyebutan kata “keris” merupakan singkatan bahasa Jawa dari “Mlungker-mlungker kang bisa ngiris“, dalam bahasa Jawa berarti “(Benda) berliku-liku yang bisa mengiris/membelah (sesuatu)”.
Kajian ilmiah perkembangan bentuk keris kebanyakan didasarkan pada analisis figur di relief candi atau patung.  Sementara itu, pengetahuan mengenai fungsi keris dapat dilacak dari beberapa prasasti dan laporan-laporan penjelajah asing ke Nusantara.

Sejak dulu sejarah keris, keris digunakan sebagai senjata, alat pusaka, objek spiritual, serta aksesoris untuk pakaian adat. Seringkali keris juga dianggap memiliki kekuatan magis. Maka hingga saat ini, masih banyak masyarakat percaya bahwa keris dapat membawa keberuntungan sehingga terkadang dijadikan sebagai jimat.
Selain itu, keris diyakini dapat menambah keberanian dan rasa percaya diri bagi pemiliknya. Alat ini juga dapat menghindarkan serangan wabah penyakit, malapetaka, dan hama tanaman. Sebagian orang juga percaya bahwa keris bisa menyingkirkan atau menangkal gangguan makhluk halus. Terlepas dari sisi magis, ada beberapa fungsi lain keris bagi masyarakat.

-

Pertama, keris pada masa lampau digunakan sebagai senjata tradisional. Di zaman kerajaan, setiap prajurit membawa keris yang diselipkan di pinggang. Sebagai senjata pokok dalam berperang, keris bisa ditemukan di kisah Ken Arok, Amangkurat II, dan lain-lain. Keris juga sering digunakan oleh pahlawan seperti Imam Bonjol, Hasanudin, Pangeran Diponegoro, dan sebagainya.

Kedua, sebagai benda pusaka warisan nenek moyang. Alasan ini membuat keris dibuat dan disimpan dengan sangat hati-hati. Keris juga banyak disimpan di museum atau keraton seperti Surakarta dan Yogyakarta.

Selanjutnya, keris juga menjadi lambang atau simbol terutama bagi warga daerah Jawa. Simbol atau lambang ini berupa lukisan, perkataan, lencana, dan lainnya yang mengandung arti tertentu. Simbol keris diantaranya untuk menyatakan legitimasi jabatan atau kekuasaan, lambang status, identitas, serta falsafah masyarakat Jawa.

Lalu keris juga menjadi alat perlengkapan berbagai aktivitas. Misalnya perlengkapan pertunjukan wayang, perlengkapan upacara bersih desa, perlengkapan pakaian adat, dan sebagainya.

Main Menu