Uang Kertas Probolinggo

Kertas Probolinggo atau Probolinggo Papier itu adalah uang kertas yang dibuat Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811) tahun 1810. Kertas putih berukuran sedang itu berisi tulisan berbahasa Belanda dan Arab Melayu, ditandatangani pejabat berwenang dan dibubuhi cap ”LN” atau Lodewijk Napoleon. Kala itu Belanda dalam kekuasaan Perancis, yang dipimpin Napoleon Bonaparte.

Awal Mula Uang Kertas Probolinggo

Di masa kolonial, Gubernur Jenderal Daendels pernah mengeluarkan kebijakan penjualan tanah untuk mengatasi dan menutupi kekurangan pembangunan dan pertahanan pemerintahan Belanda di Pulau Jawa karena pengeluaran yang kian membengkak. Pengeluaran terbesar dipakai untuk biaya pegawai dan tentara, biaya peperangan dengan raja-raja di Jawa, hingga pembuatan Jalan Anyer-Panarukan.

Melalui usaha ini dana dana mudah didapat. Karena itu, sejumlah tanah yang dikuasai Belanda, termasuk Probolinggo, dijual kepada pihak swasta. Kebijakan ini diambil memperhatikan saran van Ljsseldijk, seorang pejabat Kumpeni yang pada akhir abad ke-18 mengadakan peninjauan ke Probolinggo. Namun, karena membutuhkan uang cepat dan uang logam masih langka, pemerintah Belanda akhirnya menerbitkan surat berharga dengan jaminan uang perak senilai tanah Probolinggo pada 1810. Surat berharga inilah yang disebut uang kertas Probolinggo.
Uang kertas Probolinggo beredar dalam bentuk pecahan sebagai berikut:

    1. 100 Rijksdaalders
    2. 200 Rijksdaalders
    3. 300 Rijksdaalders
    4. 400 Rijksdaalders
    5. 500 Rijksdaalders
    6. 1000 Rijksdaalders

Kertas ini ditanda tangani oleh M. W. Van Hoesen dan J. C. Romswinkel.
Uang kertas Probolinggo berlaku selama 10 tahun dan dinyatakan sebagai alat pertukaran untuk uang perak di seluruh Jawa. Pada saat Daendels berkuasa uang emas dan perak sebanding 100% dengan uang kertas yang beredar. Uang in diharapkan karena sebekumnya di masa VOC sudah muncul uang kertas yang tak berguna karena dilanda inflasi. Dengan demikian uang kertas sebelumnya yang berjumlah 4.000.000 Ringgit sekarang bertambah lagi dengan 1.000.000 Ringgit uang kertas Probolinggo.

Menurut buku Oeang Noesantara (2015)

bidang agraria Gubernur Daendels mengeluarkan ketetapan baru yang sebelumnya tidak ada, yakni penjualan tanah partikelir. Uang yang diperoleh akan digunakan untuk menutupi kekurangan pembangunan dan pertahanan di Jawa. Kalau sebelumnya, tanah hanya boleh dimiliki oleh keturunan Eropa, tapi kali ini keturunan Timur Asing diperbolehkan.

Pada kunjungan 30 Juni 1810 ke Jawa Timur, Daendels setuju menjual tanah itu seharga 400.000 Real Spanyol kepada seorang mayor Cina di Probolinggo, Han Tjan Pit. Ia meneruskan usaha ayahnya, Han Boey Ko, yang memiliki hak penyewaan tanah perkebunan di Besuki dan Panarukan.

Namun karena ada masalah pada peredaran uang logam dan pembayaran secara tunai, maka Daendels menerbitkan kertas berharga atau nota kredit sesuai dengan nilai tanah yang dihipotikkan, yaitu sebesar 1.000.000 ringgit.

Tentu saja narasi menjadi penting. Apalagi, Untoro atau Uno, penulis buku ini seorang kolektor senior (numismatis) yang senang membaca buku-buku sejarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Main Menu